Di bidang pendidikan sering kita jumpai, bahwa dalam mendidik anak tak jarang menyertakan nafsu amarah sebagai model pembelajaranya, padahal itu sangat merugikan, baik bagi siswa maupun guru atau orang tua. Siswa akan merasa stres dan tertekan dan ilmu yang diberikan tidak akan bisa diserap dengan baik. “ ilmu itu cahaya “ dan cahaya akan menembus kepada hati dan pikiran yang sama-sama bening. Dan bagi guru ia tidak akan fokus dalam mendidik karena hati dan pikiranya kotor. Jadi kalau ingin berhasil mendidik anak, maka bagian terpenting yang harus kita lakukan adalah mentrasfer ilmu ke pada anak didik melalui cinta (hati). Hati yang ikhlas memberi ilmu, maka akan sampai kepada anak. Kalau boleh saya ibaratkan, guru atau orang tua ketika mendidik anak melalui cinta (hati) seperti aliran listrik yang dihantarkan kabel hingga muncul cahaya yang mampu menyentu dan memunculkan percikan-percikan. Ingat, ketika rasa cinta dalam mendidik anak sudah pudar, betapa banyak ilmu yang kita sampaikan dan dengan ulasan yang gamblang, maka ilmu tersebut tak akan sampai tujuan.
Didalam dunia modern pendidikan, banyak kita mengenal beraneka ragam model pembelajaran yang dikembangkan dalam mendidik anak. Salah satunya adalah mendidik dengan cinta. Mendidik dengan cara ini merupakan ciri pendidikan yang diterapkan oleh Rasulullah SAW. Kekerasan bukan jalan yang terbaik untuk mendidik anak. Apapun alasanya, kekerasan yang ditampilkan oleh seorang guru daalam setiap aksi mendidik, hanya akan menyebabkan rasa tertekan yang mendalam bagi anak. Belajar dengan suasana tegang dan rasa takut biasanya tidak akan menghasilkan maksimal. Bahkan kalau kita lihat dalam sebuah
penelitihan membuktikan bahwa kegagalan anak dalam belajar 80 % disebabkan karena stress.
Rasulullah SAW, sebagaimana dalam literatur-literatur sejarah. Beliau adalah maha guru yang patut kita suri tauladani. ketika memberikan ilmu atau suatu hikmah kepada para sahabat, maka beliau selalu memulai dan mengakhiri dengan ucapan dan etika yang santun tak terkecuali ketika bersama anak-anak kecil, beliau selalu menunjukkan cinta dan kasih sayangnya. sikap yang demikian pernah di tunjukkan Rasulullah SAW ketika bertemu dengan seorang ibu yang menggendong anaknya, sepontan Rasulullah SAW ingin menggendongnya, lalu si anak kecil tersebut merasa nyaman dipangkuanya, eh ternyata tak berapa lama kemudian si anak kencing, hinggah membasahi baju Rasulullah. Maka dengan kejadian itu si Ibu memarahi anaknya karena baju Nabi Muhammad SAW terkotori oleh air kencing anaknya tersebut. Rasulullah yang bijak inipun memberi nasehat kepada si ibu agar jangan memarahi anaknya. Karena si anak sudah merasa nyaman bersama Rasulullah. jika sang ibu marah, maka dikhawatirkan ia akan takut ketika bersama orang lain.Dan hal ini bisa menghambat perkembangan otak dan jiwanya.
Cinta adalah obat bagi pekerjaan, jiwa bagi kehidupan, suatu pekerjaan tidak akan baik tanpa dilandasi dengan cinta, beribadah / bekerja apapun profesinya, termasuk sebagai guru. kalau tidak ada landasan cinta maka ibadah/kerja tersebut tidak akan bisa baik dan terfokus (khusyu”) seorang ayah rela pergi pagi dan pulang petang untuk bekerja membanting tulang. kita yakin tanpa ada semangat cinta yang berkobar didada, maka bisa dipastikan kekuatan bekerjanya hanya seumur jagung, seorang ibu yang mengurus anak-anak dan
suaminya tanpa didasari cinta yang selalu menjelma di jiwa, maka bisa ditebak kekuatan pengabdianya akan segera luntur seiring waktu yang berubah.
Dari sekian banyak model pembelajaran, saya mengambil satu model pembelajaran yaitu model pembelajaran Ramah Guru dan ramah anak, saya kira inilah salah satu model pembelajaran berbasis cinta. Di dalam model ini, guru lebih bersifat demokratis. Guru banyak mengenal karakter anak sebelum memutuskan langkah apa yang seharusnya dilakukan terhadap anak yang dihadapi. Guru tidak boleh memaksa kehendak kepada siswa agar selalu mengikutinya. Bukan berarti anak dibiarkan liar. Pendekatan guru lebih banyak menata perasaan yang masih labil. (Baca : Pendidikan Berbasis Karakter).
Model pembelajaran ramah guru dan ramah anak lebih banyak memberikan prasangka baik (khusnudlon) kepada anak, artinya segala tingkah laku anak dianggap mempunyai tujuan yang baik, hanya saja terkadang langkahnya yang salah sehingga pendekatan yang dilakukan guru dengan pendekatan yang halus. pendekatan guru harus mampu mengubah sikap dengan penuh makna.
Guru sendiri harus menyadari tentang potensi-potensi anak yang perlu dikembangkan. Potensi itu bisa berkembang jika diberikan kepercayaan. Perlu diketahui bahwa kepercayaan merupakan bentuk pengakuan dari satu pihak lain. Secara alamiah seseorang yang dipercaya akan berusaha menjaga kepercayaan tersebut dengan sungguh-sungguh.
Dalam pendekatan pembelajaran ramah guru dan ramah anak, yang muncul adalah pendekatan motifasi dan bukan pemaksaan kehendak guru. Seorang guru ketika mengharapkan anak didiknya menjadi lebih baik, maka dilakukan dengan menggali potensi yang ada pada diri anak dengan menunjukkan kemampuan yang dimlikinya. Model pembelajaran inilah yang harus dikembangkan terus oleh pendidik di SD Muhammadiyah 21.
Sekali lagi, didiklah anak dengan cinta, itulah kata yang tepat untuk mendidik mereka saat ini. Kekerasan bukan jalan yang terbaik untuk mendidik anak, apapun alasanya, kekerasan yang ditampilkan oleh seorang guru terkadang dalam pandangan anak adalah bahwa kita telah memarahinya, membencinya dan hal ini bisa menyebabkan katakutan anak.Belajar dengan rasa takut dan tertekan tidak akan mencapai tujuan pendidikan sebagaimana yang diharapkan.
Ucapan yang keras, kasar, dan pemberian sanksi yang berlebihan adalah hal yang tidak diinginkan oleh semua anak, walaupun menurut guru demi kebaikan mereka. Yang dirasakan anak hanyalah bahwa kemarahan itu menjadi bukti ketidaksenangan guru kepadanya. Maka satu kata kunci paling ampuh dalam mendidik anak adalah dengan berlaku lemah lembut, ucapan santun, dan penuh cintah kasih, walaupun dalam keadaan marah sekalipun. Semoga kita lebih bersabar dalam mendidik anak-anak kita. “ Wallahu A’lamu Bis-showab “