Membaca adalah jendela dunia.....
Bagaimana
dengan Dyslexia????
Pepatah diatas adalah suatu kalimat semangat untuk
anak – anak, karena dengan membaca kita bias tahu banyak hal meskipun kita
tidak melihat dan menjalankannya. Tetapi untuk anak – anak Dyslexia dalam
mengenal dunia, mereka tidak hanya membutuhkan mata untuk membaca tetapi mereka
juga butuh kemampuan telinga bahkan sentuhan dalam mengenalkan dunia. Mereka
mengalami kesulitan dalam kemampuan membaca dan menulis.
Selama ini kemampuan
membaca dan menulis sering menjadi acuan para orang tua dalam menilai tingkat
kepandaian anaknya yang sudah memasuki usia sekolah. Bahkan anak yang sudah
bersekolah dan belum bisa lancar membaca dianggap tertinggal. Padahal siapa
tahu anak tersebut menderita gangguan membaca dan menulis akibat kelainan pada
otak.
Secara normal kemampuan
membaca dan menulis seorang anak sudah muncul ketika menginjak usia 6 tahun
atau tujuh tahun, namun hal ini tidak terjadi pada anak penderita ganngguan
membaca menulis. Sampai usia 12 tahun anak tersebut masih belum lancar membaca
dan menulis. Bahkan sampai usia dewasa sekalipun mereka masih mengalami
gangguan keduanya.
Gangguan membaca dan
menulis pada anak tersebut disebut juga dengan Dyslexia
atau disleksia. Dyslexia adalah suatu masalah kesulitan belajar khusus. Dyslexia
mempengaruhi kemampuan seseorang untuk belajar, mengolah dan mengerti suatu
informasi dengan baik. Secara khusus hal ini menyebabkan masalah dalam membaca
dan menulis seseorang karena seseorang dengan problem dyslexia kesulitan
mengenali dan mengartikan suatu kata, mengerti isi bacaan, dan mengenali bunyi.
Tentunya ini menghambat kemampuan seorang anak untuk belajar membaca.
Penyebab dyslexia secara
umum bisa jadi dari faktor genetika atau keturunan, memiliki masalah
pendengaran sejak usia dini, karena jika kesulitan pendengaran tidak terdeteksi sejak dini maka otak yang
sedang berkembang akan sulit menghubungkan bunyi atau suara yang disengarnya
dengan huruf yang dilihatnya. Pernah mengalami cedera kepala atau otak.
Dyslexia dapat terdeteksi
setelah anak memasuki dunia sekolah, dengan ciri – ciri :
1. Lambat bicara jika
dibandingkan kebanyakan anak seusianya dan tidak dapat mengucapkan kata – kata
secara benar
2.
Lambat mengenali alfabet,
angka, hari, minggu, bulan, warna, bentuk dan informasi yang mendasar lainnya
secara benar.
3.
Kesulitan menyuarakan fonem
( satuan bunyi ) dan memadukannya menjadi sebuah kata.
4.
Kesulitan mengeja secara
benar. Bahkan mungkin anak akan mengeja satu kata dengan bermacam ucapan.
5.
Kesulitan mengeja kata atau
suku kata dengan benar. Anak bingung menghadapi huruf yang mempunyai kemiripan
bentuk seperti b – d, u – n, m – n.
6.
Membaca satu kata dengan
benar di satu halaman tapi salah di halaman lainnya.
7.
Kesulitan memahami apa yang
dibaca.
8.
Sering terbalik dalam
menuliskan atau mengucapkan kata. Misalnya kata “ dia “ menjadi “ bia “, kata “
gajah “ diucapkan menjadi “ gagah “.
9.
Rancu dengan kata – kata
yang singkat misalnya ke, dari, dan jadi.
10. Kesulitan mencatat huruf
atau menyalin tulisan dari papan atau buku.
11. Hasil tulisan kurang baik.
12. Punya kebiasaan terlalu cepat hingga salah mengucapkan kata
atau bahkan terlalu lambat dan terputus – putus.
13. Kesulitan mengikuti lebih dari sebuah intruksi dalam satu
waktu yang sama.
14. Kesulitan pada kemam puan motorik halus ( misalnya memegang
alat tulis, mengancing baju, memakai tali sepatu )
15. Rancu atau bingung dengan simbol – simbol matematis
Jika seorang anak
menunjukkan sejumlah tanda – tanda dyslexia kita bisa melakukan beberapa tahap
sebagai berikut :
1.
Educational approachdan
phonic lessons, apabila kita mulai
mencurigai bahwa anak mengidap dyslexia hendaknya kita segera konsultasi dengan
psikolog atau sekolah pengajaran khusus untuk membantu anak dalam meningkatkan
perkembangan membacanya. Anak dyslexia tidak selamanya tidak mampu membaca dan
menulis. Apabila mendapat penanganan yang tepat dan insentif maka dia akan
dapat membaca seperti layaknya anak – anak lain. Bahkan bisa ber IQ lebih
tinggi dari anak normal.
2.
Metode Multi-sensory, Dengan metode ini anak akan diajarkan mengeja tidak hanya berdasarkan
apa yang dia dengar ( Auditori ) lalu
diucapkan kembali tapi juga memanfaatkan kemampuan memori visual ( penglihatan
) serta taktil ( sentuhan ). Cara ini dilakukan untuk memungkinkan terjadinya
asosiasi antara pendengaran, penglihatan dan sentuhan sehingga mempermudah otak
bekerja kembali mengingat huruf – huruf.
3.
Membangun Rasa percaya
Diri, tidak ada anak yang bodoh dan lamban
melakukan sesuatu. Setiap anak mempunyai keunggulan masing – masing. Sebaiknya
kita bantu anak – anak untuk menemukan keunggulan tersebut agar mereka bisa
bangga dan tidak pesimis terhadap hambatan yang saat ini anak – anak alami.
Buat mereka bangga karena keunggulan dan kemauan mereka sendiri, bukan bangga
karena tuntutan dan kemauan kita.