Headline

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, ...

Susunan Dewan Redaksi

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros. Aliquam pharetra. Nulla in tellus eget odio sagittis blandit. ...

Rubrik Olah Raga

Here's an mp3 file that was uploaded as an attachment: Juan Manuel Fangio by Yue And here's a link to an external mp3 file: Acclimate by General Fuzz Both are CC licensed. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, ...

Surat Pembaca

Some block quote tests: Here's a one line quote. This part isn't quoted. Here's a much longer quote: Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. In dapibus. In pretium pede. Donec molestie facilisis ante. Ut a turpis ut ipsum pellentesque tincidunt. Morbi blandit sapien in mauris. Nulla lectus lorem, varius aliquet, ...

Edisi

I'm just a lowly contributor. My posts must be approved by the editor.Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros. Aliquam pharetra. Nulla in tellus eget odio sagittis blandit. Maecenas at ...

Posted by kurniawan - -

Membaca adalah jendela dunia.....
Bagaimana dengan Dyslexia????


Pepatah diatas adalah suatu kalimat semangat untuk anak – anak, karena dengan membaca kita bias tahu banyak hal meskipun kita tidak melihat dan menjalankannya. Tetapi untuk anak – anak Dyslexia dalam mengenal dunia, mereka tidak hanya membutuhkan mata untuk membaca tetapi mereka juga butuh kemampuan telinga bahkan sentuhan dalam mengenalkan dunia. Mereka mengalami kesulitan dalam kemampuan membaca dan menulis.

Selama ini kemampuan membaca dan menulis sering menjadi acuan para orang tua dalam menilai tingkat kepandaian anaknya yang sudah memasuki usia sekolah. Bahkan anak yang sudah bersekolah dan belum bisa lancar membaca dianggap tertinggal. Padahal siapa tahu anak tersebut menderita gangguan membaca dan menulis akibat kelainan pada otak.

Secara normal kemampuan membaca dan menulis seorang anak sudah muncul ketika menginjak usia 6 tahun atau tujuh tahun, namun hal ini tidak terjadi pada anak penderita ganngguan membaca menulis. Sampai usia 12 tahun anak tersebut masih belum lancar membaca dan menulis. Bahkan sampai usia dewasa sekalipun mereka masih mengalami gangguan keduanya.

Gangguan membaca dan menulis pada anak tersebut disebut juga dengan Dyslexia atau disleksia. Dyslexia adalah suatu masalah kesulitan belajar khusus. Dyslexia mempengaruhi kemampuan seseorang untuk belajar, mengolah dan mengerti suatu informasi dengan baik. Secara khusus hal ini menyebabkan masalah dalam membaca dan menulis seseorang karena seseorang dengan problem dyslexia kesulitan mengenali dan mengartikan suatu kata, mengerti isi bacaan, dan mengenali bunyi. Tentunya ini menghambat kemampuan seorang anak untuk belajar membaca.
Penyebab dyslexia secara umum bisa jadi dari faktor genetika atau keturunan, memiliki masalah pendengaran sejak usia dini, karena jika kesulitan pendengaran  tidak terdeteksi sejak dini maka otak yang sedang berkembang akan sulit menghubungkan bunyi atau suara yang disengarnya dengan huruf yang dilihatnya. Pernah mengalami cedera kepala atau otak.
Dyslexia dapat terdeteksi setelah anak memasuki dunia sekolah, dengan ciri – ciri :

1.        Lambat bicara jika dibandingkan kebanyakan anak seusianya dan tidak dapat mengucapkan kata – kata secara benar
2.        Lambat mengenali alfabet, angka, hari, minggu, bulan, warna, bentuk dan informasi yang mendasar lainnya secara benar.
3.        Kesulitan menyuarakan fonem ( satuan bunyi ) dan memadukannya menjadi sebuah kata.
4.        Kesulitan mengeja secara benar. Bahkan mungkin anak akan mengeja satu kata dengan bermacam ucapan.
5.        Kesulitan mengeja kata atau suku kata dengan benar. Anak bingung menghadapi huruf yang mempunyai kemiripan bentuk seperti b – d, u – n, m – n.
6.        Membaca satu kata dengan benar di satu halaman tapi salah di halaman lainnya.
7.        Kesulitan memahami apa yang dibaca.
8.        Sering terbalik dalam menuliskan atau mengucapkan kata. Misalnya kata “ dia “ menjadi “ bia “, kata “ gajah “ diucapkan menjadi “ gagah “.
9.        Rancu dengan kata – kata yang singkat misalnya ke, dari, dan jadi.
10.    Kesulitan mencatat huruf  atau menyalin tulisan dari papan atau buku.
11.    Hasil tulisan kurang baik.
12.    Punya kebiasaan terlalu cepat hingga salah mengucapkan kata atau bahkan terlalu lambat dan terputus – putus.
13.    Kesulitan mengikuti lebih dari sebuah intruksi dalam satu waktu yang sama.
14.    Kesulitan pada kemam puan motorik halus ( misalnya memegang alat tulis, mengancing baju, memakai tali sepatu )
15.    Rancu atau bingung dengan simbol – simbol matematis

Jika seorang anak menunjukkan sejumlah tanda – tanda dyslexia kita bisa melakukan beberapa tahap sebagai berikut :

1.                 Educational approachdan phonic lessons, apabila kita mulai mencurigai bahwa anak mengidap dyslexia hendaknya kita segera konsultasi dengan psikolog atau sekolah pengajaran khusus untuk membantu anak dalam meningkatkan perkembangan membacanya. Anak dyslexia tidak selamanya tidak mampu membaca dan menulis. Apabila mendapat penanganan yang tepat dan insentif maka dia akan dapat membaca seperti layaknya anak – anak lain. Bahkan bisa ber IQ lebih tinggi dari anak normal.
2.                 Metode Multi-sensory, Dengan metode ini anak akan diajarkan mengeja tidak hanya berdasarkan apa yang dia dengar ( Auditori )  lalu diucapkan kembali tapi juga memanfaatkan kemampuan memori visual ( penglihatan ) serta taktil ( sentuhan ). Cara ini dilakukan untuk memungkinkan terjadinya asosiasi antara pendengaran, penglihatan dan sentuhan sehingga mempermudah otak bekerja kembali mengingat huruf – huruf.
3.                 Membangun Rasa percaya Diri, tidak ada anak yang bodoh dan lamban melakukan sesuatu. Setiap anak mempunyai keunggulan masing – masing. Sebaiknya kita bantu anak – anak untuk menemukan keunggulan tersebut agar mereka bisa bangga dan tidak pesimis terhadap hambatan yang saat ini anak – anak alami. Buat mereka bangga karena keunggulan dan kemauan mereka sendiri, bukan bangga karena tuntutan dan kemauan kita.